A. Riwayat
Hidup Abu Bakar Ash-siddiq
Nama
Abu Bakar adalah Abdullah bin Abu Quhafah Usman bin Amir bin Amr bin Sa’d bin
Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ayy bin Talib bin Fihr bin Nadr bin Malik
Al-Quraisy At-Tamimi. Ibunya bernama Ummu Khair Salma binti Sakhr. Garis
keturunan ayah dan ibunya bertemu pada neneknya bernama Ka’ab bin Sa’ad bin
Taim bin Murrah.[1]
Nasabnya bertemu dengan Rasulullah di kakeknya, Murrah[2].
Banyak
perselisihan mengenai nama asli dari Abu Bakar. Ada yang berpedapat bahwa
beliau bernama Abdullah dan ada juga yang berpendapat bahwa namanya Al-Atiq.
Namun yang benar ialah apa yang telah disepakati oleh para ulama’ bahwa Atiq
itu bukanlah nama beliau, Atiq adalah gelarnya. Dia diberi gelar Atiq, karena
dia dianggap lepas dari neraka, sebagaimana ini terdapat dalam riwayat Imam
At-Tirmidzi. Juga disebutkan bahwa gelar itu diberikan karena ia memiliki wajah
rupawan dan sejumlah orang lain menyebutkan bahwa gelar itu diberikan karena
dalam silsilah keturunannya tidak ada yang mengandung aib.
Dia di lahirkan dua tahun dua bulan setelah kelahiran rasulullah.dan meninggal dalam usia enam puluh tiga tahun sebagaimana usia rasulullah. Waktu kecil beliau bernama Abdul Ka’bah, kemudian di ganti oleh Nabi menjadi Abdullah karna ia paling cepat masuk islam. Dia tumbuh besar di Makkah dan tidak pernah keluar dari Makkah kecuali untuk tujuan dagang dan bisnis. Dia termasuk tokoh Quraisy di masa Jahiliyah, orang yang selalu di minta nasehat dan pertimbanganya, sangat di cintai di kalangan mereka sangat tahu kode etik yang ada dikalangan mereka. Tatkala islam datang dia mengedepankaan islam atas yang lain dan dia masuk islam dengan sempurna.
Abu
Bakar adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari seluruh sahabat yang
lain. Bahkan ada sebagian yang menyatakan bahwa Abu Bakar orang yang pertama
masuk islam adalah merupakan ijma’. As-Siddiq merupakan gelar yang di
berikan kepadanya setelah dia membenarkan perististiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah[3].
Selama
di Makkah, peranan beliau sangat besar untuk membantu Nabi Muhammad menyebarkan
islam. Lewat dakwah beliau, ada beberapa dari kalangan bangsawan Quraisy yang
masuk islam seperti Usman bin Affan dan lain-lain. Beliau dikenal dengan
kedermawanannya. Semua hartanya beliau gunakan untuk kepentingan umat islam dan
agama islam[4].
Abu
Bakar memiliki istri empat. Pertama, Kutayla binti Abdul ‘Uzza, yang melahirkan
Abdullah dan Asma’; kedua, Ummu Rumman yang melahirkan Abdurrohman dan ‘Aisyah;
ketiga, Asma binti Umays yang melahirkan Muhammad bin Abi Bakar; keempat,
Habibah binti Kharaja yang melahirkan Ummu Kultsum.
Beliau
merupakan sahabat yang paling setia, sahabat yang paling utama dan paling baik.
Seluruh ahlussunnah sepakat bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling baik
setelah Rasulullah, lalu menyusul Umar, Ustman, Ali dan semua orang yang
mendapat jaminan masuk surga, yang ikut perang Badar, yang terjun dalam perang
Uhud dan seluruh Sahabat[5].
Sering kali mendampingi Rasulullah disaat-saat penting atau jika berhalangan,
Rasulullah mempercayainya sebagai pengganti untuk menangani tugas-tugas
keagamaan dan atau mengurusi persoalan-persoalan aktual di Madinah[6].
Pada
tahun 632 M bersamaan dengan wafatnya Rasulullah, beliau diangkat menjadi
Khalifah setelah dibai’at oleh kaum muslimin. Setelah menjalankan tugas
Khalifah selama 2 tahun 3 bulan 10 hari, beliau wafat pada tanggal 22 Jumadil
Akhir 13 H atau 23 Agustus 634 M setelah kurang lebih 15 hari terbaring
ditempat tidur[7].
B. Proses
Pengangkatan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq
Setelah
Nabi SAW wafat, umat islam dihadapkan pada persoalan yang cukup pelik yang tak
pernah timbul dikala Nabi masih hidup, serta tak dijumpai penyelesaianya dalam
Al-qur’an yaitu masalah suksesi[8].
Siapa yang menggantikan Nabi sebagai kepala Negara Madinah. Akhirnya mereka
memutuskan untuk mengadakan pertemuan antara pemuka-pemuka Muhajjirin dan
Anshar di Saqifah (tempat pertemuan) Bani Sai’dah. Karena tidak adanya
petunjuk dalam Al-qur’an tentang siapa yang menggantikan Nabi sebagai kepala
Negara, dan Nabi pun tidak menunjuk siapa yang akan menggantikannya karena
dikhawatirkan terjadi perselisihan dan ini menunjukkan bahwa Nabi berjiwa
demokratis, tidak otoriter. Dari kubu masing-masing golongan mengajukan argumen
yang intinya mengunggulkan dari kubu masing-masing. Kemudian dari kubu anshor
menginginkan agar Negara dipimpin dua pemimpin yaitu dari Anshor dan
Muhajjirin, tetapi dengan tegas Umar menolak karena tidak mungkin dalam satu
sarung terdapat dua pedang. Umar masih tetap mengajukan Abu Bakar sebagai Khalifah
dan beliau menerimanya. Akhirnya Abu Bakar di bai’at oleh orang-orang yang ada
di Saqifah yang disebut bai’at Khassah. Hari berikutnya Abu Bakar
dibai’at oleh umat di masjid Nabi dan ini disebut bai’at Ammah.[9]
Para
sahabat membai’at Abu Bakar Ash-Siddiq. Ali bin Abi Thalib terlambat membai’at
Abu Bakar karena beliau sibuk mengurus jenazah Nabi Muhammad SAW.[10]
Kemudian
Abu Bakar berdiri dan memuji Allah dan menyatakan syukurnya. Kemudian dia
berkata,”Amma Ba’du.Wahai manusia! Sesungguhnya saya telah di pilih untuk
memimpin kalian dan bukanlah saya orang terbaik di antara kalian. Maka ,jika
saya melakukan hal yang baik,bantulah saya. Dan jika saya melakukan tindakan n
menyeleweng luruskanlah saya. Sebab kebenaran ialah amanah,sedangkan kebohongan
itu ialah penghianatan. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat dalam
pandangan saya hingga saya ambilkan hak –haknya untuknya,sedangkan orang yang
kuat diantara kalian lemah di hadapanku hingga saya ambil hak orang lain
darinya,insyaallah. Dan tidak ada satu kaum pun yang meninggalkan jihad di
jalan Allah kecuali akan Allah timpakan kepadanya kebinasan. Dan tidak pula
menyebar kemaksiatan kepada satu kaum kecuali Allah akan menimpakan kepada
mereka petaka. Taatlah kalian padaku selama saya taat kepada Allah dan jika
saya melakukan maksiat kepada Allah dan
Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban taat kalian kepadaku. Bangunlah untuk
melakukan sholat,rahimakumullah.”[11]
C.
Keberhasilan
yang Dicapai Masa Khalifah Abu Bakar r.a.
Terpilihnya Abu Bakar telah membangun kembali kesadaran
dan tekad umat untuk bersatu melanjutkan tugas mulia Nabi. Ia menyadari
bahwa kekuatan kepemimpinannya bertumpu
pada komunitas yang bersatu ini. Sistem pemeruntahan yang dijalankan Abu Bakar
bersifat sentralistik, sama seperti zaman Nabi Muhammad saw., yakni
kekuasaan eksekutif, legislatif , dan yudikatif terpusat di satu tangan. Yang
pertama kali menjadi perhatian Khalifah adalah merealisaikan keinginan Nabi yang hampir tidak
terlaksana,yaitu mengirimkan ekpidisi ke
perbatasan suriah di bawah pemimpin Usamah. Hal tersebut di lakukan untuk
membalas pembunuhan ayahnya Zaid dan kerugian yang di derita oleh umat islam dalam perang Mu’tah. Sebagian
sahabat menentang keras rencana ini, tetapi khalifah tidak peduli. Nyatanya
ekpedisi itu sukses dan membawa pengaruh
positif bagi umat islam, khususnya di dalam membankitkan kepercayaan diri
mereka yang nyaris pudar. Banyak hal yang dicapai oleh Abu Bakar diantaranya:
a.
Perang Riddah
Ketika
Nabi Muhammad wafat, suku-suku bangsa Arab tidak mau tunduk lagi dengan agama
islam akan tetapi mereka kembali ke agama mereka masing-masing, gerakan ini
dinamakan Riddah[12].
Dengan adanya hal tersebut Abu Bakar langsung bertindak dan melakukan perang
yang dinamakan perang Riddah. Beliau berhasil memerangi orang-orang yang murtad
dan para Nabi palsu. Diantara Nabi palsu yang berhasil dibunuh yaitu Musailamah
Al-Khazab dari Bani Hanifah di Al-Yamamah[13].
Setelah usai memerangi orang-orang murtad, Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid
untuk menuju wilayah Bashrah dan memerangi Ublah. Dia kemudian membuka dan
menaklukanya. Ia juga menaklukkan wilayah kaisar yang ada diwilayah Iraq dengan
cara perang dan dengan cara damai.
Pada
tahun ini pula Abu Bakar menunaikan ibadah haji. Kemudian dia pulang dan
mengirim ‘Amr bin Al-‘Ash dan pasukanya ke Syam. Pada saat itulah terjadi
perang Ajnadhain, yakni pada bulan Jumadil ‘Ula tahun 13 H dan kaum muslimin
mendapatkan kemenangan, sedangkan Abu Bakar mendapat kabar tersebut saat
menjelang akhir khayatnya. Pada perang tersebut Ikhrimah bin Hisyam bin Al-‘Ash
mati syahid[14].
b.
Melanjutkan
Rencana Nabi
Setelah
kondisi dalam negeri stabil, Abu Bakar meneruskan rencana Rasul yang belum
terlaksana yaitu mengadakan peperangan dengan Persia dan Byzantium karena kasus
bendhi[15].
Khalid
bin Walid dibantu oleh Al-Mutsannabin Haritsah dikirim ke Persia (Iraq) dan
dapat menguasai Hirah[16]
pada tahun 634 M. Pasukan dipimpin empat orang jendral dikirim ke Syam (Syria)
yang menjadi jajahan Romawi (Byzantium) yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah atau
pemimpun tertinggi empat pasukan ke Hims, Yazid bin Abi Sofyan ke Damaskus, Amr
bin ‘Ash ke Palestina dan Syurahbil ke lembah Yordania. Melihat pasukan yang
menang hanya ‘Amr bin ‘Ash diperbatasan Palestina, Abu Bakar menyatukan pasukan
menghadapi laskar Romawi di Yarmuk. Jendral Khalid bin Walid pun diperintahkan
meninggalkan Iraq untuk memperkuat pasukan di Syam. Beliau memimpin pasukan
berkekuatan 30.000 personil menghadapi gentaran pasukan Romawi yang berkekuatan
lebih dari 100.000 personil dibawah panglima Theodore, saudara Heraklius, di
pertempuran Aznadain tahun 13 H. pada pertempuran itu, tentara Islam memperoleh
kemenangan, mencoreng dan mempermalukan Hireklius sehingga ia meninggalkan
Hims, melarikan diri ke Antakia (Antiokhia). Saat Khalid bin Walid dan
pasukannya memenangkan di Ajnadain, datang surat dari Madinah yang menyatakan
Khalifah Abu Bakar meninggal dunia dan digantikan Umar bin Khattab[17].
c.
Pembagian
Wilayah
Wilayah-wilayah
dalam kekuasaan Madinah masa Abu Bakar dipimpin oleh amir dan wali
. Amir merupakan pemimpin wilayah yang memiliki otonomi penuh,
sedangkan wali tidak otonomi
penuh. Di antara amir dan wali itu menurut
Abd al-Wahhab al- Najjar yang di kutip oleh Mubarok[18]
adalah : 1) Amir kota Makkah yaitu atab Ibn Asyad, 2) Amir kota Thaif yaitu
Utsman Ibn al-Ash, 3) Wali kota Shan’a yaitu al- Muhajjir Ibn Umayyah, 4) Wali
kota Hadhramaut yaitu Ziyad Ibn Labid, 5) Wali kota Khaulan yaitu Ya’la Ibn
Umayyah , 6) Wali kota Zubaid wa Rima’ yaitu Abu Musa al-Asy’hari, 7) Amir kota
Jand yaitu Mua’adz Ibn Jabal, 8)Wali kota Najran yaitu Jarir Ibn Abd Allah, 9)
Wali kota Jarsy yaitu Abd Allah Ibn Tsaur, dan Wli kota Bahrain yaitu al-Ala’
Ibn al- Hadromi. Abu Bakar tidak mengangkat
perdana mentri dan sekertaris,namun beliu membentuk Bait al-Mal untuk
kepentingan umat islam[19].
Banyak hal yang dilakukan Abu Bakar dalam menata Negara, diantaranya yaitu dia
adalah orang yang pertama yang membangun baithul mal.
d.
Kodifikasi
al-Qur’an
Dalam memerangi
kaum murtad, dari kalangan kaum muslimin banyak Hafiz (penghafal al-Qur’
an) yang tewas. Di karenakan merupakan penghafal bagian-bagian al-Qur’an, Umar
cemas jika angka kematian itu bertambah, yang berarti beberapa bagian lagi dari
Al-qur’an akan musnah. Oleh karena itu, ia menasehati Abu Bakar untuk membuat
suatu kumpulan Al-qur’an. Mulanya Khalifah agak ragu untuk melakukan tugas ini
karena tidak menerima otoritas dari Nabi, tetapi kemudian ia memberikan
persetujuan dari usulan Umar[20]
Kemudian ia mengutus Zaid bin Tsabit untuk memimpin pengkodifikasian Al-qur’an
ini karena beliau salah seorang penulis wahyu Al-qur’an ketika wahyu turun pada
masa Nabi. Para penulis Al-qur’an pada masa Nabi berjumlah 26 orang, bahkan ada
yang meriwayatkan 42 orang. Ke-26 orang itu adalah Abu Bakar Ash-siddiq, Umar
bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Amir bin
Fuhairah, Abdullah Bin Al-arqam, Amr bin ‘Ash, Ubay bin Ka’ab, Mughirah bin
Syu’bah, Handlalah bin Ar-rabi’, Abdullah bin Ruwahah, Khalid bin Walid, Khalid
bin Sa’id, Al-‘Alla bin Hadhrami, Muawwiyah bin Abi Sofyan, Yazid bin Abi
Sofyan, Muhammad bin Maslamah, Abdullah bin Abdullah bin Ubay, Mu’aiqib bin Abi
Fathimah, Hudzaifah bin Yaman, Abdullah bin Abi Sarah, Huwaithib bin Abdul
‘Uzza, Hashien bin Namier, Tsabit bin Qais, Zaid bin Tsabit[21].
Seluruh
ayat-ayat Al-qur’an berhasil dikumpulkan, kemudian disimpan oleh Abu Bakar
sampai beliau meninggal. Selanjutnya, naskah Al-qur’an itu disimpan oleh Umar
bin Khattab sebagai Khalifah kedua pengganti Abu Bakar. Sepeninggal Umar,
naskah Al-qur’an disimpan oleh salah seorang putrinya, Siti Hafsah, mantan
istri Nabi Muhammad SAW[22].
[2] Samson Rahman, 2012,
Tarikh Khulafa’, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, hal.31.
[4] M.Yasin, 2014, Sejarah Kebudayaan Islam,
Jakarta: Kemenag RI, hal. 107
[5] Samson Rahman, 2012, Tarikh Khulafa’, Jakarta
Timur: Pustaka Al-Kautsar, hal. 49
[6] Samsul Munir Amin, 2010, Sejarah Peradaban
Islam, Jakarta: Amzah, hal. 93
[7] Samsul Munir Amin, 2010,
Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, hal. 98
[8] Dalam KBBI suksesi artinya
proses penggantian kepemimpinan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
[9] Hasan Ibrahim Hasan, 1976, Tarikh Al-Islam Wa
Al-Dini Wa Al-Tsaqafi Wa Al-Ijtima’i, Juz 1, Kairo; Maktabah Al-Nahdhah
Al-Mishriyah, hal. 432
[10] M.Yasin, 2014, Sejarah Kebudayaan Islam,
Jakarta: Kemenag RI, hal. 108
[11] Samson Rahman, 2012, Tarikh Khulafa’, Jakarta
Timur: Pustaka Al-Kautsar, hal. 77
[12] Yaitu gerakan pengingkaran terhadap islam,
riddah berarti murtad, beralih agama dari Islam ke kepercayaan semula, secara
polotisi merupakan pembangkangan.
[13] A. Syalabi, 1994, Sejarah Kebudayaan Islam,
Jilid 1, Terjemahan Oleh Mukhtar Yahya. Jakarta: Pustaka Al-Husna, hal.
230-231.
[14] Samson Rahman, 2012, Tarikh Khulafa’, Jakarta
Timur: Pustaka Al-Kautsar, hal. 84.
[15] Dai-dai Muhammad sampai ke Syria dibunuh oleh
tentara-tentara Byzantium, lalu Nabi mengirimkan tentara berperang melawan Byzantium dan yang menang Byzantium.
Kemudian ada kabar Byzantium akan menyerang Negara Madinah, Nabi dan bala
tentara sudah siap untuk menghadapinya di Laut Merah, namun tentara Byzantium
tidak jadi datang dan perang pun tidak jadi.
[16] Sebuah kerajaan setengah
Arab yang menyatakan kesetiaanya kepada kisra Persia. Yang secara strategis
sangat penting bagi umat islam dalam meneruskan penyebaran agama kewilayah
dibelahan utara dan timur.
[17] Faisal Ismail, 1984, Sejarah Dan Kebudayaan
Islam Dari Zaman Permulaan Hingga Zaman Khulafaurrasyidin, Yogyakarta: CV.Bina
Usaha, h.109-110.
[18] Dai- dai Muhammad (orang
sipil) sampai ke syria di bunuh oleh tentera-tentara Byzantium. Kemudian ada
khabar Byzantium akan menyerang Negara Madinah, Nabi dan bala tentaranya sudah
siap untuk menghadapinya di laut Merah, namun tentara Bynzantum tidak jadi
datang dan perang pun tidak jadi.( Di sampaikan Harun Nasution dalam
perkuliahan tahun 1996).
[19] Ibid.
[20] Samsul Munir Amin, 2010, Sejarah Peradaban
Islam, Jakarta: Amzah, hal. 96
[21] Moenawar Kholil, 1985, Al-Qur’an Dari Masa
Kemasa, Solo: Ramadhani, hal.19.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar