ada

Minggu, 01 November 2015

riwayat hidup abu bakar ash-shiddiq



A.    Riwayat Hidup Abu Bakar Ash-siddiq

Nama Abu Bakar adalah Abdullah bin Abu Quhafah Usman bin Amir bin Amr bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ayy bin Talib bin Fihr bin Nadr bin Malik Al-Quraisy At-Tamimi. Ibunya bernama Ummu Khair Salma binti Sakhr. Garis keturunan ayah dan ibunya bertemu pada neneknya bernama Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah.[1] Nasabnya bertemu dengan Rasulullah di kakeknya, Murrah[2].
Banyak perselisihan mengenai nama asli dari Abu Bakar. Ada yang berpedapat bahwa beliau bernama Abdullah dan ada juga yang berpendapat bahwa namanya Al-Atiq. Namun yang benar ialah apa yang telah disepakati oleh para ulama’ bahwa Atiq itu bukanlah nama beliau, Atiq adalah gelarnya. Dia diberi gelar Atiq, karena dia dianggap lepas dari neraka, sebagaimana ini terdapat dalam riwayat Imam At-Tirmidzi. Juga disebutkan bahwa gelar itu diberikan karena ia memiliki wajah rupawan dan sejumlah orang lain menyebutkan bahwa gelar itu diberikan karena dalam silsilah keturunannya tidak ada yang mengandung aib.

Dia di lahirkan dua tahun dua bulan setelah kelahiran rasulullah.dan meninggal dalam usia enam puluh tiga tahun sebagaimana usia rasulullah. Waktu kecil beliau bernama Abdul Ka’bah, kemudian di ganti oleh Nabi menjadi Abdullah karna ia paling cepat masuk islam. Dia tumbuh besar di Makkah dan tidak pernah keluar dari Makkah kecuali untuk tujuan dagang dan bisnis. Dia termasuk tokoh Quraisy di masa Jahiliyah, orang yang selalu di minta nasehat dan pertimbanganya, sangat di cintai di kalangan mereka sangat tahu kode etik yang ada dikalangan mereka.  Tatkala islam datang dia mengedepankaan islam atas yang lain dan dia masuk islam dengan sempurna.
Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari seluruh sahabat yang lain. Bahkan ada sebagian yang menyatakan bahwa Abu Bakar orang yang pertama masuk islam adalah merupakan ijma’. As-Siddiq merupakan gelar yang di berikan kepadanya setelah dia membenarkan perististiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah[3].
Selama di Makkah, peranan beliau sangat besar untuk membantu Nabi Muhammad menyebarkan islam. Lewat dakwah beliau, ada beberapa dari kalangan bangsawan Quraisy yang masuk islam seperti Usman bin Affan dan lain-lain. Beliau dikenal dengan kedermawanannya. Semua hartanya beliau gunakan untuk kepentingan umat islam dan agama islam[4].
Abu Bakar memiliki istri empat. Pertama, Kutayla binti Abdul ‘Uzza, yang melahirkan Abdullah dan Asma’; kedua, Ummu Rumman yang melahirkan Abdurrohman dan ‘Aisyah; ketiga, Asma binti Umays yang melahirkan Muhammad bin Abi Bakar; keempat, Habibah binti Kharaja yang melahirkan Ummu Kultsum.
Beliau merupakan sahabat yang paling setia, sahabat yang paling utama dan paling baik. Seluruh ahlussunnah sepakat bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling baik setelah Rasulullah, lalu menyusul Umar, Ustman, Ali dan semua orang yang mendapat jaminan masuk surga, yang ikut perang Badar, yang terjun dalam perang Uhud dan seluruh Sahabat[5]. Sering kali mendampingi Rasulullah disaat-saat penting atau jika berhalangan, Rasulullah mempercayainya sebagai pengganti untuk menangani tugas-tugas keagamaan dan atau mengurusi persoalan-persoalan aktual di Madinah[6].
Pada tahun 632 M bersamaan dengan wafatnya Rasulullah, beliau diangkat menjadi Khalifah setelah dibai’at oleh kaum muslimin. Setelah menjalankan tugas Khalifah selama 2 tahun 3 bulan 10 hari, beliau wafat pada tanggal 22 Jumadil Akhir 13 H atau 23 Agustus 634 M setelah kurang lebih 15 hari terbaring ditempat tidur[7].

B.     Proses Pengangkatan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Setelah Nabi SAW wafat, umat islam dihadapkan pada persoalan yang cukup pelik yang tak pernah timbul dikala Nabi masih hidup, serta tak dijumpai penyelesaianya dalam Al-qur’an yaitu masalah suksesi[8]. Siapa yang menggantikan Nabi sebagai kepala Negara Madinah. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan pertemuan antara pemuka-pemuka Muhajjirin dan Anshar di Saqifah (tempat pertemuan) Bani Sai’dah. Karena tidak adanya petunjuk dalam Al-qur’an tentang siapa yang menggantikan Nabi sebagai kepala Negara, dan Nabi pun tidak menunjuk siapa yang akan menggantikannya karena dikhawatirkan terjadi perselisihan dan ini menunjukkan bahwa Nabi berjiwa demokratis, tidak otoriter. Dari kubu masing-masing golongan mengajukan argumen yang intinya mengunggulkan dari kubu masing-masing. Kemudian dari kubu anshor menginginkan agar Negara dipimpin dua pemimpin yaitu dari Anshor dan Muhajjirin, tetapi dengan tegas Umar menolak karena tidak mungkin dalam satu sarung terdapat dua pedang. Umar masih tetap mengajukan Abu Bakar sebagai Khalifah dan beliau menerimanya. Akhirnya Abu Bakar di bai’at oleh orang-orang yang ada di Saqifah yang disebut bai’at Khassah. Hari berikutnya Abu Bakar dibai’at oleh umat di masjid Nabi dan ini disebut bai’at Ammah.[9]
Para sahabat membai’at Abu Bakar Ash-Siddiq. Ali bin Abi Thalib terlambat membai’at Abu Bakar karena beliau sibuk mengurus jenazah Nabi Muhammad SAW.[10]
Kemudian Abu Bakar berdiri dan memuji Allah dan menyatakan syukurnya. Kemudian dia berkata,”Amma Ba’du.Wahai manusia! Sesungguhnya saya telah di pilih untuk memimpin kalian dan bukanlah saya orang terbaik di antara kalian. Maka ,jika saya melakukan hal yang baik,bantulah saya. Dan jika saya melakukan tindakan n menyeleweng luruskanlah saya. Sebab kebenaran ialah amanah,sedangkan kebohongan itu ialah penghianatan. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat dalam pandangan saya hingga saya ambilkan hak –haknya untuknya,sedangkan orang yang kuat diantara kalian lemah di hadapanku hingga saya ambil hak orang lain darinya,insyaallah. Dan tidak ada satu kaum pun yang meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali akan Allah timpakan kepadanya kebinasan. Dan tidak pula menyebar kemaksiatan kepada satu kaum kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka petaka. Taatlah kalian padaku selama saya taat kepada Allah dan jika saya melakukan maksiat kepada Allah  dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban taat kalian kepadaku. Bangunlah untuk melakukan sholat,rahimakumullah.”[11]


C.     Keberhasilan yang Dicapai Masa Khalifah Abu Bakar r.a.
Terpilihnya  Abu Bakar telah membangun kembali kesadaran dan tekad umat untuk bersatu melanjutkan tugas mulia Nabi. Ia menyadari bahwa  kekuatan kepemimpinannya bertumpu pada komunitas yang bersatu ini. Sistem pemeruntahan yang dijalankan Abu Bakar bersifat sentralistik, sama seperti zaman Nabi Muhammad saw., yakni kekuasaan eksekutif, legislatif , dan yudikatif terpusat di satu tangan. Yang pertama kali menjadi perhatian Khalifah adalah merealisaikan  keinginan Nabi yang hampir tidak terlaksana,yaitu mengirimkan ekpidisi  ke perbatasan suriah di bawah pemimpin Usamah. Hal tersebut di lakukan untuk membalas pembunuhan ayahnya Zaid dan kerugian yang di derita  oleh umat islam dalam perang Mu’tah. Sebagian sahabat menentang keras rencana ini, tetapi khalifah tidak peduli. Nyatanya ekpedisi itu sukses  dan membawa pengaruh positif bagi umat islam, khususnya di dalam membankitkan kepercayaan diri mereka yang nyaris pudar. Banyak hal yang dicapai oleh Abu Bakar diantaranya:
a.                   Perang Riddah
Ketika Nabi Muhammad wafat, suku-suku bangsa Arab tidak mau tunduk lagi dengan agama islam akan tetapi mereka kembali ke agama mereka masing-masing, gerakan ini dinamakan Riddah[12]. Dengan adanya hal tersebut Abu Bakar langsung bertindak dan melakukan perang yang dinamakan perang Riddah. Beliau berhasil memerangi orang-orang yang murtad dan para Nabi palsu. Diantara Nabi palsu yang berhasil dibunuh yaitu Musailamah Al-Khazab dari Bani Hanifah di Al-Yamamah[13]. Setelah usai memerangi orang-orang murtad, Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid untuk menuju wilayah Bashrah dan memerangi Ublah. Dia kemudian membuka dan menaklukanya. Ia juga menaklukkan wilayah kaisar yang ada diwilayah Iraq dengan cara perang dan dengan cara damai.
Pada tahun ini pula Abu Bakar menunaikan ibadah haji. Kemudian dia pulang dan mengirim ‘Amr bin Al-‘Ash dan pasukanya ke Syam. Pada saat itulah terjadi perang Ajnadhain, yakni pada bulan Jumadil ‘Ula tahun 13 H dan kaum muslimin mendapatkan kemenangan, sedangkan Abu Bakar mendapat kabar tersebut saat menjelang akhir khayatnya. Pada perang tersebut Ikhrimah bin Hisyam bin Al-‘Ash mati syahid[14].
b.                  Melanjutkan Rencana Nabi
Setelah kondisi dalam negeri stabil, Abu Bakar meneruskan rencana Rasul yang belum terlaksana yaitu mengadakan peperangan dengan Persia dan Byzantium karena kasus bendhi[15].
Khalid bin Walid dibantu oleh Al-Mutsannabin Haritsah dikirim ke Persia (Iraq) dan dapat menguasai Hirah[16] pada tahun 634 M. Pasukan dipimpin empat orang jendral dikirim ke Syam (Syria) yang menjadi jajahan Romawi (Byzantium) yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah atau pemimpun tertinggi empat pasukan ke Hims, Yazid bin Abi Sofyan ke Damaskus, Amr bin ‘Ash ke Palestina dan Syurahbil ke lembah Yordania. Melihat pasukan yang menang hanya ‘Amr bin ‘Ash diperbatasan Palestina, Abu Bakar menyatukan pasukan menghadapi laskar Romawi di Yarmuk. Jendral Khalid bin Walid pun diperintahkan meninggalkan Iraq untuk memperkuat pasukan di Syam. Beliau memimpin pasukan berkekuatan 30.000 personil menghadapi gentaran pasukan Romawi yang berkekuatan lebih dari 100.000 personil dibawah panglima Theodore, saudara Heraklius, di pertempuran Aznadain tahun 13 H. pada pertempuran itu, tentara Islam memperoleh kemenangan, mencoreng dan mempermalukan Hireklius sehingga ia meninggalkan Hims, melarikan diri ke Antakia (Antiokhia). Saat Khalid bin Walid dan pasukannya memenangkan di Ajnadain, datang surat dari Madinah yang menyatakan Khalifah Abu Bakar meninggal dunia dan digantikan Umar bin Khattab[17].
c.                   Pembagian Wilayah
Wilayah-wilayah dalam kekuasaan Madinah masa Abu Bakar  dipimpin oleh amir dan wali . Amir merupakan pemimpin wilayah yang memiliki otonomi penuh, sedangkan wali  tidak otonomi penuh. Di antara amir dan wali  itu menurut Abd al-Wahhab al- Najjar yang di kutip oleh Mubarok[18] adalah : 1) Amir kota Makkah yaitu atab Ibn Asyad, 2) Amir kota Thaif yaitu Utsman Ibn al-Ash, 3) Wali kota Shan’a yaitu al- Muhajjir Ibn Umayyah, 4) Wali kota Hadhramaut yaitu Ziyad Ibn Labid, 5) Wali kota Khaulan yaitu Ya’la Ibn Umayyah , 6) Wali kota Zubaid wa Rima’ yaitu Abu Musa al-Asy’hari, 7) Amir kota Jand yaitu Mua’adz Ibn Jabal, 8)Wali kota Najran yaitu Jarir Ibn Abd Allah, 9) Wali kota Jarsy yaitu Abd Allah Ibn Tsaur, dan Wli kota Bahrain yaitu al-Ala’ Ibn al- Hadromi. Abu Bakar tidak mengangkat  perdana mentri dan sekertaris,namun beliu membentuk Bait al-Mal untuk kepentingan umat islam[19]. Banyak hal yang dilakukan Abu Bakar dalam menata Negara, diantaranya yaitu dia adalah orang yang pertama yang membangun baithul mal.
d.                  Kodifikasi al-Qur’an
Dalam memerangi kaum murtad, dari kalangan kaum muslimin banyak Hafiz (penghafal al-Qur’ an) yang tewas. Di karenakan merupakan penghafal bagian-bagian al-Qur’an, Umar cemas jika angka kematian itu bertambah, yang berarti beberapa bagian lagi dari Al-qur’an akan musnah. Oleh karena itu, ia menasehati Abu Bakar untuk membuat suatu kumpulan Al-qur’an. Mulanya Khalifah agak ragu untuk melakukan tugas ini karena tidak menerima otoritas dari Nabi, tetapi kemudian ia memberikan persetujuan dari usulan Umar[20] Kemudian ia mengutus Zaid bin Tsabit untuk memimpin pengkodifikasian Al-qur’an ini karena beliau salah seorang penulis wahyu Al-qur’an ketika wahyu turun pada masa Nabi. Para penulis Al-qur’an pada masa Nabi berjumlah 26 orang, bahkan ada yang meriwayatkan 42 orang. Ke-26 orang itu adalah Abu Bakar Ash-siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Amir bin Fuhairah, Abdullah Bin Al-arqam, Amr bin ‘Ash, Ubay bin Ka’ab, Mughirah bin Syu’bah, Handlalah bin Ar-rabi’, Abdullah bin Ruwahah, Khalid bin Walid, Khalid bin Sa’id, Al-‘Alla bin Hadhrami, Muawwiyah bin Abi Sofyan, Yazid bin Abi Sofyan, Muhammad bin Maslamah, Abdullah bin Abdullah bin Ubay, Mu’aiqib bin Abi Fathimah, Hudzaifah bin Yaman, Abdullah bin Abi Sarah, Huwaithib bin Abdul ‘Uzza, Hashien bin Namier, Tsabit bin Qais, Zaid bin Tsabit[21].
Seluruh ayat-ayat Al-qur’an berhasil dikumpulkan, kemudian disimpan oleh Abu Bakar sampai beliau meninggal. Selanjutnya, naskah Al-qur’an itu disimpan oleh Umar bin Khattab sebagai Khalifah kedua pengganti Abu Bakar. Sepeninggal Umar, naskah Al-qur’an disimpan oleh salah seorang putrinya, Siti Hafsah, mantan istri Nabi Muhammad SAW[22].


[1]  Ratu Suntinah, Maslani, 2014, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Interes Media, hal. 54.
[2] Samson Rahman, 2012, Tarikh Khulafa’, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, hal.31.
[3]  Ratu Suntinah, Maslani, 2014, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Interes Media, hal. 55
[4]  M.Yasin, 2014, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Kemenag RI, hal. 107
[5]  Samson Rahman, 2012, Tarikh Khulafa’, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, hal. 49
[6]  Samsul Munir Amin, 2010, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, hal. 93
[7] Samsul Munir Amin, 2010, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, hal. 98
[8] Dalam KBBI suksesi artinya proses penggantian kepemimpinan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
[9]  Hasan Ibrahim Hasan, 1976, Tarikh Al-Islam Wa Al-Dini Wa Al-Tsaqafi Wa Al-Ijtima’i, Juz 1, Kairo; Maktabah Al-Nahdhah Al-Mishriyah, hal. 432
[10]  M.Yasin, 2014, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Kemenag RI, hal. 108
[11]  Samson Rahman, 2012, Tarikh Khulafa’, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, hal. 77
[12]  Yaitu gerakan pengingkaran terhadap islam, riddah berarti murtad, beralih agama dari Islam ke kepercayaan semula, secara polotisi merupakan pembangkangan.
[13]  A. Syalabi, 1994, Sejarah Kebudayaan Islam, Jilid 1, Terjemahan Oleh Mukhtar Yahya. Jakarta: Pustaka Al-Husna, hal. 230-231.
[14]  Samson Rahman, 2012, Tarikh Khulafa’, Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, hal. 84.
[15]  Dai-dai Muhammad sampai ke Syria dibunuh oleh tentara-tentara Byzantium, lalu Nabi mengirimkan tentara berperang  melawan Byzantium dan yang menang Byzantium. Kemudian ada kabar Byzantium akan menyerang Negara Madinah, Nabi dan bala tentara sudah siap untuk menghadapinya di Laut Merah, namun tentara Byzantium tidak jadi datang dan perang pun tidak jadi.
[16] Sebuah kerajaan setengah Arab yang menyatakan kesetiaanya kepada kisra Persia. Yang secara strategis sangat penting bagi umat islam dalam meneruskan penyebaran agama kewilayah dibelahan utara dan timur.
[17]  Faisal Ismail, 1984, Sejarah Dan Kebudayaan Islam Dari Zaman Permulaan Hingga Zaman Khulafaurrasyidin, Yogyakarta: CV.Bina Usaha, h.109-110.
[18] Dai- dai Muhammad (orang sipil) sampai ke syria di bunuh oleh tentera-tentara Byzantium. Kemudian ada khabar Byzantium akan menyerang Negara Madinah, Nabi dan bala tentaranya sudah siap untuk menghadapinya di laut Merah, namun tentara Bynzantum tidak jadi datang dan perang pun tidak jadi.( Di sampaikan Harun Nasution dalam perkuliahan tahun 1996).
[19] Ibid.
[20]  Samsul Munir Amin, 2010, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah, hal. 96
[21]  Moenawar Kholil, 1985, Al-Qur’an Dari Masa Kemasa, Solo: Ramadhani, hal.19.
[22]  Ratu Suntinah, Maslani, 2014, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Interes Media, hal. 59

Tidak ada komentar:

Posting Komentar